Music

Jumat, 22 Juni 2012

Puisiku


Hujan... 
Pendengarkan senandung lagu percikanmu pada mereka tentang aku.  
Hujan... 
Biarkan mereka tahu, aku dan kamu adalah satu kesatuan.  
Setidaknya mereka pun tahu, bahwa aku merindukan mereka.  
Mereka yang pernah hidup dalam hidupku.  
Yang menorehkan berbagai warna di kertas putih kehidupanku,  
Aku tahu, kertas hidupku mungkin tak seputih bayi yang baru lahir. 
Kertasku sedikit kusam oleh jalanku yang tak pernah luput dari dosa.  
Tapi setiap kali turun hujan, aku ingin mereka ingat aku.

Yang Terpilih

karena hati akan jatuh pada seseorang yang dia kehendaki
seberapa besar pun usaha kita lari dari cinta, cinta kan tetap mengikuti
saking hebatnya, dia memburu kita tanpa kita sadari
seberapa besar pun usaha kita menolak agar cinta tak menghampiri kita, karena hati akan jatuh pada seseorang yang dia kehendaki tanpa bisa -logika- kita pungkiri
bahwa hati yang jatuh adalah cinta
 
 
 

Kamis, 12 April 2012

Cerpen

Jingga
            Halo jingga, kini aku telah berada di Universitas yang telah kita janjikan bersama. Saat kita bertemu di kelas 11 ipa, ku lihat kau mencuri pandang padaku. Ataukah aku yang merasa kegeeran ?. Tapi, saat itulah takdir seakan sengaja mempertemukan kita, hingga kita menjalin hubungan -pacaran- sampai kita kuliah. Aku anggap seperti itu.Enam semester telah ku selesaikan dengan baik, semua nilai yang kudapatkan ini berkatmu. Entah dimana, aku percaya kamu pasti akan selalu mendoakanku. Terimakasih karena doamu, cita-citaku untuk cumlaude di semester pertama sebagai langkah awal dari perjuanganku dua semester lagi untuk menjadi sarjana, telah tercapai. Selanjutnya, ritual melihat fotomu sebelum mengahadapi tes apapun dan berdoa pada Tuhan tentunya, tak pernah aku lewatkan.Jingga, partikel rinduku berhamburan ke langit. Apalagi ketika langit menjadi jingga saat raja siang akan bergantian dengan dewi malam, hatiku mengatakan bahwa kamu pun merasakan hal yang sama denganku. Rindu.Karena aku tahu, kamu menyukai langit ketika jingga. “Hanya saat menjelang maghrib, aku bisa melihat jingga. Langit yang lainnya hanya hitam dan biru” gumamnya. Itulah yang kau ucapkan terakhir kalinya saat bertemu denganku, dan tanpa permisi kamu pun pergi ketika esok harinya ku lihat terpampang kata dijual di pagar rumahmu.            Beribu tanda tanya berjatuhan di kepalaku. Alasan apa yang membuat mulutmu bungkam atas kepergianmu?. Meskipun begitu, aku tetap akan menunggumu. Memang sulit rasanya. Aku tidak lagi muda. Usiaku telah cukup untuk merajut hubungan yang lebih serius dengan perempuan manapun kata ibu. Tapi, naluriku berkata bahwa kamu hanya untukku. Egois memang. Tanpa aku ketahui, bisa saja kau di tempat yang lain telah bersama yang lain pula. Entahlah yang aku dengarkan hanyalah suara racauan hatiku, kata ibu. Yang terus berusaha mencarimu.Di jejaring sosial Facebook dan twitter pun tak akan pernah kulewatkan pula untuk mencari namamu. Aku akui, harapanku padamu seperti lilin kecil yang hampir padam. Yang habis termakan api. Tapi sudah aku katakan, naluriku berkata bahwa kamu hanya untukku. Sehabis sembahyang, ku selipkan doa untuk cinta pertamaku. Kamu. Dan berharap kamu jugalah cinta terakhirku. Hidup itu memang sebuah kejutan dan misteri. Tuhan telah merancang naskah hidupku dengan sedemikian rupa, yang salah satunya ada bagian dimana aku harus kehilanganmu saat kita mengikrarkan janji untuk memasuki Universitas yang sama.Diingatanku masih terekam jelas, begitu manisnya wajahmu di pesta perpisahan sekolah. Dan pesta itu adalah benar-benar menjadi pesta perpisahan untukmu dan untukku.Ketika aku tahu, kau menghilang, sebagai tentangga yang baik, ibu dan aku berusaha menanyakan keberadaan keluargamu pada pak RT. Sebegitunya ya mereka menyembunyikan dimana kamu berada. Karena ketika aku menanyakan hal tentangmu pada sekolah, jawabannya tetap sama : mereka tidak tahu keberadaan keluargamu.            Malam ini aku bermimpi tentangmu. Kau mengenakan gaun putih dan meninggalkan aku. Memang benar, mimpi itu adalah bunga tidur, tapi apa ini juga merupakan sebuah pertanda?.Jingga, mimpi itu menakuti aku. Mengirimkan sinyal pengingat untukku bahwa kematian bisa terjadi pada siapa saja, termasuk kamu. Atau aku, dan mungkin semua orang yang aku sayangi pun.“Aneh kamu Sal, kamu terlalu fanatik pada Jingga. Kamu egois, tak pernah memikirkan dirimu sendiri dan orang lain yang mencoba masuk kedalam kehidupanmu. Cobalah buka pintu hatimu, Sal. Siapa yang tahu apakah Jingga masih hidup? jikalau masih hidup bagaimana jika dia pun telah bersama yang lain?” teringat ucapan ibu ketika mimpi itu menghilang.Seburuk apapun nanti apa yang akan terjadi, aku harus menerimanya, sekalipun mimpi itu menjadi nyata. Karena ini merupakan kehendak Tuhan. Tapi, apa ini namanya cinta sejati? Yang rela menunggu sesuatu yang tidak pasti? Yang ikhlas setia mengabdi untuk satu hati?. Padahal keagungan cinta meletup bukan pada waktunya. Saat kita berada di umur yang belia, di SMA. Namun, pantaslah si Majnun gila pada Laila karena cinta dan pantaslah Romeo rela mati demi juliet karena cinta, lantas apakah aku akan mengalami suatu hal yang sama karena cintaku pada Jingga?.            Semester tujuh, seperti mendapatkan hadiah dari Tuhan. Ketika dua orang berbaju serba hitam menghampiriku. “Apakah kamu yang bernama Faisal” dengan suaranya yang lantang. Sempat aku berpikir, bahwa mereka adalah depkolektor. Tapi, ah mana mungkin, aku tidak pernah meminjam uang di Bank. Yang ada tabunganku sedikit bertambah setiap bulannya, karena gajiku dari pekerjaan sampingan selalu aku tabungkan. “Salam sayang, untuk cinta pertama dari Jingga” dia berbisik. Sontak aku kaget dan perasaan aku pun menjadi campur aduk.Terimakasih Tuhan, ini jawaban atas doa-doaku, bahwa dialah yang akan menemukan aku.            “Apakah jam kuliah mu telah usai? mereka bertanya. “Tentu”. Dengan segera, aku di ajak mereka menuju suatu tempat yang aku pun tidak tahu. Aku yakin, mereka akan membawaku padamu, Jingga. Begitu banyak yang ingin aku ceritakan padamu. Dan aku pun akan senang, jika kamu bercerita banyak padaku. Sepanjang perjalanan, telah aku siapkan pertanyaan pertatma yang akan aku ajukan padamu. Ya alasanmu meninggalkan aku. Itu adalah pertanyaan pertamaku. Namun, apa yang terjadi setibanya disana?.Namamu ada di nisan itu. Ya namamu. Jingga Arievta. Aku menangis, dan semua mebisu. “Maafkan kami nak, bukan maksud kami menjauhkanmu dari Jingga. Ketika Jingga memutuskan untuk berobat ke Singapore, dia tidak ingin kamu tahu, bahwa dia mengidap penyakit nak. Katanya dia tidak mau menghancurkan harapanmu lebih awal” ibunya memelukku. Aku masih tetap menangis. Semuanya membisu, hanya isak tangisan yang terdengar dikeheningan keadaan sekitar pemakaman. Aku mengerti, mimpi itu adalah pertanda, bahwa aku akan bertemu dengamu dalam keadaan alam yang berbeda. Aku ikhlaskan kepergianmu Jinggaku

Senin, 05 Maret 2012

Hariku

besok atau tepat pukul dua belas malam nanti, umur yang telah berjalan maju, mengurangi kesempatan ku untuk terus hidup.
siapa yang akan tahu, jika Tuhan akan berkehendak lain ?
hadiah yang aku pinta hanyalah doa yang terus mengalir dari mulut yang biasa kamu gunakan dengan bualan konyolmu untuk membuatku merekahkan sedikit senyuman.
terimakasih untuk kasih sayang yang telah kamu berikan hingga saat ini, hingga aku tak pernah merasa kehausan.
tetaplah sederhana, seperti isi kado yang indah, yang luarnya hanya berbalutkan kertas koran.
karena apapun yang telah kita rangkai adalah kebahagiaan yang bagiku tidak akan pernah ada kata kesia-siaan, sekalipun kekecewaan kadang meraup sedikit kebahagaiaan kita.

Sabtu, 03 Maret 2012

Naskah Motivasi

Kadang penantian itu tidak selalu membuahkan hasil yang kita inginkan. Percayalah, Tuhanmu lebih tahu, jalan mana yang terbaik untukmu. Selama kau yakin padaNya, Tuhanmu kan memberi apapun yang kau butuhkan dengan jalan yang Dia rancang. Seterjal apapun jalan yang kau tempuh, Tuhanmu telah menyiapkan tempat tujuanmu yang indah. Bicara selalu lebih mudah tak seberat kenyataan yang nanti akan kita terima. Namun, Tuhanmu tidak akan pernah membiarkanmu sendiri. Sesungguhnya, Tuhanmu lebih dekat daripada urat nadimu. Hidupmu telah ternaskahkan, hidupmu telah tersuratkan diatas kertas kebahagian yang telah Dia tuliskan tentangmu. Tentang kisahmu.
Kau bisa mengubahnya. Mengubahnya dengan usahamu yang selalu percaya akan kehendakNya dan selalu berdoa terhadapNya. Mengubahnya, bukan berarti kau dapat menuliskan naskahmu semaumu. Membuat jalan cerita yang kamu inginkan. Bukan itu yang dimaksudkan. Tetapi, perjalananmu kan lebih indah jika kau menyertaimya dengan 2 hal itu. Semuanya bukan harapan dan mimpi jika kau membangun tiang mimpimu dengan 2 hal itu. Yakinlah, semuanya yang Tuhan ciptakan tidak akan pernah ada kesia-siaan. Seburuk apapun tampilan naskah cerita hidupmu, seusang buku tua yang telah terlupakan pun, Tuhanmu kan memberikanmu sebuah tambatan. Tambatan dimana kau bisa merasakan betapa Tuhanmu menyayangimu. Tuhanmu mengasihimu, dan Tuhanmu tak pernah meninggalkanmu.
Saat kau merasa kehilangan, saat kau merasa jalanmu sangat terjal, dan saat kau merasa semuanya begitu pahit melebihi pahitnya racun, kau sendirian. Bukanlah Tuhanmu yang meninggalkanmu hingga kau merasa sendiri. Dirimulah yang jauh darinya. Jauh dari Dia yang jelas-jelas selalu disampingmu.
Menjadi seseorang yang terbuang memang menyakitkan, tapi lebih menyakitkan jika kau jauh dariNya. Jauh dari naungan kasih sayangNya.

Rabu, 28 Desember 2011

Berhenti

tidak pernah ku lihat ia murka. bermuram durja pun tidak.
semuanya nampak tidak terlihat. begitu cerdik disembunyikannya. sudah lima jam kertas ini kosong. yang kupandangi hanyalah garisan hitamnya kertas. bersih.
sebenarnya, berulang kali kucoba menumpahkan berbagai imajinasiku pada kertasku. gagal.
apalah yang aku tunggu ? yang penting hanya menulis.
sudah ku coba pula mengusirmu dari pikiranku. sekuat tenaga. hingga ku pejamkan mata sia-sia. 
belum cukupkah kamu menghantui aku ?
horor rasanya.
sengajakah kau membuatku candu dengan kehilanganmu aku selalu ingin bersamamu di setiap waktuku ?
realita.
berhentilah. behenti . aku bilang berhenti !
berlari-lari dipikaranku.