Music

Rabu, 16 Januari 2013

Belajar

"Orang yang masih ingin hidup adalah orang yang masih mau belajar dimanapun,    kapanpun selama hidupnya" 
Ibu Ani (Via -Fonny)

Sebenarnya,  kalimat bu Ani yang satu ini ingin aku tulis. Berhubung udah di tulis Fonny, ya sudah aku copy saja. Maaf ya Fon hehehe.

Akhir-akhir ini, aku sering banget liat film. Padahal ini lagi UAS. Ga ada gunanya sih, malah bikin wasting time. Tapi, meskipun begitu, aku selalu ngambil sisi positif dari film tersebut.
Caranya? . Salah satu unsur intrinsik dari film bagian amanatnya, aku simpulkan sendiri.
Setiap aku nonton film. Aku belajar banyak hal. Film yang awalnya kurang rame pun sering aku tonton. Kan, mungkin saja itu "awal" nya. Kalau lama kelamaan kan bisa aja aku terbawa alur ceritanya dan menikmati ceritanya sehingga yang terlihat "awal"nya kurang rame, bisa jadi rame.

Nih, aku mau cerita film You're the Apple of My Eyes. Film ini dari Taipe, baru kali ini aku tertarik sama fil luar yang notabenya bukan dari Eropa. Ceritanya menarik dan akhirnya mungkin tidak tertebak, atau buat yang udah sering nonton film mah malah udah tertebak. Terserah lah ya. Intinya sih, itu film bercerita tentang satu anak laki-laki badung yang suka sama cewe pinter. Gimana cara ngejarnya? Otomatislah harus pinter juga, gitu kan? ceritanya emang klasik banget kan? bahasa inggrisnya mah : this movie it si common.
Hahaha gaya pake bahasa inggris. Maklum... tadi abis UAS inggris.
Eits... tunggu dulu ! . Ceritanya emang biasa aja, tapi kalo di film itu, sentuhan akting dan alurnya ga biasa. Tahu kan gimana yang ga biasa? (biasalah skenario sutradara yang suka bikin cerita indh-indah). Terus apanya dong yang aku pelajarin dari film itu? .
Hehehe ..Itu pendapat aku loh.
Yang aku pelajarin itu banyak sekali. Apa? (Males ah ngasih taunya hahaha)

Selain nonton film Taipe, aku juga nonton film Suckseed sama Top Secret a.k.a The Billionare film dari Thailand.
Film Suckseed di liris tahun 2011. Menurut aku filmnya kocak banget. Dan ceritanya? Biasa aja sih. Jadi tentang apa?.
Oke, ceritanya itu tentang persahabatan yang bermimpi ingin jadi band rock terkenal dan kompliknya cuma gara-gara cewe. Klasik lagi kan? Umum banget ceritanya. Tapi skenarionya itu loh yang luar biasa jadi bikin tambah luar biasa karena di tunjang sama akting aktris dan aktornya. Tapi di banding fim You're the Apple of My Eyes, aku lebih suka film Suckseed. Film ini ga beda jauhlah sama kehidupan sehari-hari.
Kalo the Billionare gimana? 
Cari aja ya di mbah Google hahah.

Beneran nih, aku lagi males nulis. Jadi udahan aja ya... mau baca dulu Anatomi Fisiologi Manusia buat UAS besok.

Jadi apa intinya posting ini? Yah intinya sih, kalo menurut aku, setiap hal itu pasti ga ada yang sia-sia, ga ada yang ga bermanfaat kalo kita mikirnya ke arah positif buat dijadikan pelajaran. Belajar itu kan ga harus terus baca buku, ga harus terus melakukan hal yang orang lain anggap itu ga berguna, di balik apa pun termasuk wasting time kaya gini yang bukannya harus "belajar" buat UAS malah nonton film pasti ada manfaatnya. HAHAHAH.

NB : Meskipun aku tahu sih, kalo lagi UAS bukan saatnya nonton film. Nonton film itu ada saatnya, tapi bukan pas lagi UAS. Jadi kerjakanlah sesuatu hal yang PRIORITASNYA PENTING dulu, baru ke yang KURANG PENTING itu juga merupakan proses BELAJAR yang bijaksana dalam hidup.

Jumat, 04 Januari 2013

Thank You 2012, Welcome 2013

Meta Rahmadhani


Hanya (perlu dan masih) Yakin

        Semua orang pasti pernah punya mimpi. Begitu pun aku. Mimpiku katanya terlalu “abu”. Kadang aku pun merasa “blue”. Tapi setiap kali aku menenundukan kepala, bukan hanya ada mereka –orang-orang yang selalu meragukan mimpiku- tapi ada mereka juga yang menegakkan kepalaku dan berkata: “kamu pasti bisa”. Karena aku yakin, setiap orang pasti pernah mengalami hal yang sama dalam setiap perjalanan mengejar mimpinya –baik mendapatkan celaan, kritikan maupun pengucilan-. Hingga saat ini, aku masih merawat mimpiku. Sesulit apa pun rintangan di tahun baru 2013, “aku selalu mengatakan pada diriku, kalau yang lain bisa mengejar dan mendapatkan mimpi mereka, kenapa aku tidak?”. Kadang, mimpi yang aku jaga ini, cahayanya redup, entah kenapa, mungkin karena rutinitas dan kurangnya motivasi. Aku sadar, motivasi yang paling besar bukanlah dari luar sana, tapi dari sini, dari dalam diri kita sendiri, dan mereka?. Aku jadikan mereka yang selalu menegagkan kepalaku sebagai provokator hidupku yang selalu mengeluarkan pekikan penyemangat untuk aku ketika motivasi diriku tak begitu menggebu. Aku sering membuat naskah motivasiku, mengejarnya tentu perlu cara, selain berusaha dan berdoa, cara yang terakhir adalah aku hanya (perlu dan masih) yakin pada Tuhan, bahwa suatu saat nanti mimpiku akan turun, dia tidak menggantung lagi di langit karena telah aku genggam. Seperti di tahun 2012, satu mimpiku telah aku genggam, aku masuk salah satu perguruan tinggi yang aku inginkan. Dan aku sangat bersyukur.       
       Memang semua mimpiku belum berjatuhan di tahun kemarin, tapi aku sudah bilang: “aku bahkan kalian hanya (perlu dan masih) yakin bahwa Tuhan pasti akan menurunkan mimpi aku dan kalian, meskipun itu entah kapan”. Jika mimpi menjadi seorang penulis  yang aku idamkan dari dulu belum aku genggam, namun,  apa pun nanti jadinya aku, sekalipun bukan menjadi seorang penulis. Aku berharap aku tetap bisa menmbanggakan ibuku di jalan yang lain. Amien. Dan jika Tuhan telah menuliskan naskah skenario hidupku menjadi yang bukan seorang penulis, aku (perlu dan masih) yakin bahwa Tuhan pasti mempunyai cerita lain dalam naskahnya, bahwa jalan –yang bukan menjadi seorang penulislah- ini yang terbaik untukku. Aku selalu ingat perkataan orang yang menjadi provokator utama dalam hidupku, ibu, bahwa apa yang aku anggap baik untuk jalan hidupku, belum tentu baik menurut Tuhan, dan apa yang aku anggap buruk untuk jalan hidupku, bisa saja itu adalah hal yang terbaik untuk aku dari Tuhan. Aku berharap, sampai kapan pun, mereka –keluarga, sahabat dan teman- yang menjadi provokator yang selalu mempekikan semangat untukku, akan melakukan hal yang sama denganku, yaitu menjaga mimpi-mimpi mereka selama kita-sebagai manusia- masih di beri kesempatan untuk berada di dunia.       
        Dengan selalu bersyukur pun, kita pasti akan selalu merasa bahwa kita tidak pernah kekurangan segala apapun, meskipun banyak mimpi kita yang belum kita genggam. Nikmatilah hidup, dan berpikir bahwa seolah-olah hidup itu memang menyenangkan, meskipun pada kenyataannya tidak selalu demikian. Banyak bukan para pemimpi yang akhirnya dapat menggengam apa yang mereka mimpikan karena menikmati hidup? Seperti tokoh ikal di Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, dan seperti tokoh 5 sahabat di 5cm-nya Doni Dirgantoro. Aku pun ingin seperti mereka berdua. Di balik semua mimpinya, dan kerasnya hidup, aku harus selalu bersyukur dan bukan hanya selalu memikirkan tentang “aku” tapi juga harus peduli sesama. Mungkin hal yang paling kecil yang aku lakukan sebagai tanda aku peduli pada sesama adalah aku juga harus menjadi provokator yang selalu mempekikan semangat.         
        Nah ini dia, kita boleh mengenal kata gagal dalam hidup, tapi kita jangan pernah merasa gagal dalam hidup, jika kita terus mencoba sampai kita bisa. Berharap boleh, bermimpi boleh. Selama itu gratis, kenapa tidak ?. Justru disitu manusia bisa bertahan hidup. Banyak sekali bukan manusia yang mengalami putus asa dan kecewa karena terlalu termantra oleh kata gagal. Dan akhirnya malah mengubur mimpi mereka. Padahal lebih sakit membunuh mimpi kita sendiri daripada melihat –kemungkinan- bahwa mimpi kita pasti terwujud –meskipun entah kapan-. Kalau pun tidak? Aku sudah bilang, ada “mimpi” Tuhan yang lain yang akan menjadi jalan yang terbaik untuk kita suatu saat nanti atau bahkan di tahun baru ini, kita hanya (masih dan perlu) yakin. Semoga.... Aamiin. :)

GagasMedia: http://gagasmedia.net
Gammara Leather: http://gammaraleather.com

Senin, 03 Desember 2012

Terngiang

Judul diatas bukan salah satu lirik lagu dangdut loh !, tapi hmmmmmmmmm......
Begini awalnya, salah seorang temanku, akan ikut ke Jakarta untuk mengeluarkan aspirasi mereka (karena temanku adalah anggota BEM) di gedung KPK. Dan kebetulan, dia disuruh untuk membuat sebuah tulisan (ya entah apa namanya, artikel, karya ilmiah, dan terserahlah) yang mengisnpirasi (jadi tulisan apa namanya?).
Saat kami bercakap-cakap tentang misi tersebut, dia dengan santainya menunda apa yang telah di tugaskan padanya.
"kamu banyak hal yang harus dikerjakan".
"nanti saja, aku belum mendapatkan inspirasi untuk menulis".
"oke, menulis itu perlu keheningan, aku pikir (untuk aku yang merasa sebagai penulis amatiran -sadar diri- haha)."
"iya, memang. saat ini, aku hanya ingin beristirahat sebentar dengan mengobrol santai"

aku mengerti, dia memang memiliki sikap bawaan yang (sangat) santai, katanya. (hahahha, eh !)

"oke, silahkan, pasti kamu akan mengalami kebingungan, kalimat apa yang akan kamu tulis, untuk mengawali paragraf peratamamu".
"ah, kadang, tapi tidak seperti kamu, memangnya harus galau dulu supaya bisa menulis".

beberapa menit hening ....

percaya atau tidak ?
Sampai saat ini, aku masih mendengar dan terekam jelas apa yang dia ucapkan tentang aku.
Bukan maksud aku membeci atas apa yang telah dia ucapkan. bukan !
Perkataannya membuat aku mengeluarkan jurus emas pada saat itu -diam-.
Aku tiak ingin berdebat dengannya, aku malas. Pada kenyataannya aku akan kalah.
Dan jujur, bukan aku takut dengan kekalahan, karena aku bukan pecundang (hahah ah masa?). Saat itu, aku benar-benar diam, bahkan hati aku yang suka mengoceh pun diam, dia tidak berkata.
Sekaranglah saatnya... Aku akan membela segala sesuatunya yang dia hakimi tentang aku.

Seseorang itu diciptakan dari asal (bahan) yang sama. Namun, mereka akan berbeda jika mereka tumbuh.
Dan begitulah seperti kita yang berbicara mengeluarkan tentang apa yang kita rasa dan kita pikirkan.
Yang lain memang hebat dalam penyampaian secara lisan, tetapi ada yang lain juga yang memang hebat menyampaikan secara tulisan.
Coba renungkan,  rata-rata yang menarik untuk ditulis bukankah tentang kesedihan? tentang kegalauan? apa pun itu, baik menyangkut hidup, percintaan, pertemanan, kehilangan, harapan dan masih banyak yang lainnya.
Kenapa ?
Pendapatku secara pribadi, karena perasaan seperti itulah yang mudah digambarkan, dan mudah diuraikan lewat tulisan dibandingkan lewat lisan (untuk sebagian orang).
Toh, banyak, kan? orang yang mencurahkan isi hati dan pengalaman hidupnya, yang  kini akhirnya menjadi penulis?
Seperti Iwan Setiyawan lewat  9S10A-nya dan Andrea Hirata lewat Laskar Pelangi-nya.
Hanya saja mereka (sang penulis tersebut) pandai memainkan kata dan merangkai kata, sehingga apa yang mereka tulis, tidak terlihat "hanya sekedar curhat".
Coba renungkan ...

Pelit katanya

Ada kalanya hal kecil itu hanya bisa kita nikmati sendiri, tertawa sendiri tanpa membagi.
Hey ! bukan pelit, coba saja setelah tertawa kita bagi, dan mungkin saja kan yang lain hanya diam, akibat apa yang kita bagikan malah tidak membuat mereka geli?.
Dan akhirnya berhenti. Nikmatilah sekiranya tertawa itu memang harus kita miliki sendiri.

Kamis, 01 November 2012

Beda(-)kan(?)

Coba bedakan sesuatu bukan hanya dari satu sudut.
Coba bedakan sesuatu dari dekat dan jauhnya kita memandang.
Coba bedakan sesuatu apapun itu bukan dari apa yang kita ketahui secara simpang siur.
Coba bedakan sesuatu apapun itu tidak dengan cara sebegitu cepatnya kita menyimpulkan.
Coba beda (-) kan (?)

Oktober

Kosong.
Kamu menyelami aku, seperti kamu menyelami tulisanku. 


Tersimpulkan : hidupku begitu dalam.
Begitu ?
Salah. Kamu terlalu dalam menyelam, tapi kamu kedasar mana?

Ganjal

Ada yang diam disana ? dan hatinya yang menahan bicara. 
Apa tandanya? sesuatu yang ganjal disana. Maka bicarakanlah. Mungkin cukup.