Meta Rahmadhani
Hanya (perlu dan masih) Yakin
Semua
orang pasti pernah punya mimpi. Begitu pun aku. Mimpiku katanya terlalu “abu”. Kadang
aku pun merasa “blue”. Tapi setiap kali aku menenundukan kepala, bukan hanya
ada mereka –orang-orang yang selalu meragukan mimpiku- tapi ada mereka juga yang
menegakkan kepalaku dan berkata: “kamu pasti bisa”. Karena aku yakin, setiap
orang pasti pernah mengalami hal yang sama dalam setiap perjalanan mengejar
mimpinya –baik mendapatkan celaan, kritikan maupun pengucilan-. Hingga saat
ini, aku masih merawat mimpiku. Sesulit apa pun rintangan di tahun baru 2013, “aku
selalu mengatakan pada diriku, kalau yang lain bisa mengejar dan mendapatkan
mimpi mereka, kenapa aku tidak?”. Kadang, mimpi yang aku jaga ini, cahayanya
redup, entah kenapa, mungkin karena rutinitas dan kurangnya motivasi. Aku sadar,
motivasi yang paling besar bukanlah dari luar sana, tapi dari sini, dari dalam
diri kita sendiri, dan mereka?. Aku jadikan mereka yang selalu menegagkan
kepalaku sebagai provokator hidupku yang selalu mengeluarkan pekikan penyemangat
untuk aku ketika motivasi diriku tak begitu menggebu. Aku sering membuat naskah
motivasiku, mengejarnya tentu perlu cara, selain berusaha dan berdoa, cara yang
terakhir adalah aku hanya (perlu dan masih) yakin pada Tuhan, bahwa suatu saat
nanti mimpiku akan turun, dia tidak menggantung lagi di langit karena telah aku
genggam. Seperti di tahun 2012, satu mimpiku telah aku genggam, aku masuk salah
satu perguruan tinggi yang aku inginkan. Dan aku sangat bersyukur.
Memang semua mimpiku belum berjatuhan di tahun kemarin, tapi aku sudah bilang: “aku bahkan kalian hanya (perlu dan masih) yakin bahwa Tuhan pasti akan menurunkan mimpi aku dan kalian, meskipun itu entah kapan”. Jika mimpi menjadi seorang penulis yang aku idamkan dari dulu belum aku genggam, namun, apa pun nanti jadinya aku, sekalipun bukan menjadi seorang penulis. Aku berharap aku tetap bisa menmbanggakan ibuku di jalan yang lain. Amien. Dan jika Tuhan telah menuliskan naskah skenario hidupku menjadi yang bukan seorang penulis, aku (perlu dan masih) yakin bahwa Tuhan pasti mempunyai cerita lain dalam naskahnya, bahwa jalan –yang bukan menjadi seorang penulislah- ini yang terbaik untukku. Aku selalu ingat perkataan orang yang menjadi provokator utama dalam hidupku, ibu, bahwa apa yang aku anggap baik untuk jalan hidupku, belum tentu baik menurut Tuhan, dan apa yang aku anggap buruk untuk jalan hidupku, bisa saja itu adalah hal yang terbaik untuk aku dari Tuhan. Aku berharap, sampai kapan pun, mereka –keluarga, sahabat dan teman- yang menjadi provokator yang selalu mempekikan semangat untukku, akan melakukan hal yang sama denganku, yaitu menjaga mimpi-mimpi mereka selama kita-sebagai manusia- masih di beri kesempatan untuk berada di dunia.
Dengan selalu bersyukur pun, kita pasti akan selalu merasa bahwa kita tidak pernah kekurangan segala apapun, meskipun banyak mimpi kita yang belum kita genggam. Nikmatilah hidup, dan berpikir bahwa seolah-olah hidup itu memang menyenangkan, meskipun pada kenyataannya tidak selalu demikian. Banyak bukan para pemimpi yang akhirnya dapat menggengam apa yang mereka mimpikan karena menikmati hidup? Seperti tokoh ikal di Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, dan seperti tokoh 5 sahabat di 5cm-nya Doni Dirgantoro. Aku pun ingin seperti mereka berdua. Di balik semua mimpinya, dan kerasnya hidup, aku harus selalu bersyukur dan bukan hanya selalu memikirkan tentang “aku” tapi juga harus peduli sesama. Mungkin hal yang paling kecil yang aku lakukan sebagai tanda aku peduli pada sesama adalah aku juga harus menjadi provokator yang selalu mempekikan semangat.
Nah ini dia, kita boleh mengenal kata gagal dalam hidup, tapi kita jangan pernah merasa gagal dalam hidup, jika kita terus mencoba sampai kita bisa. Berharap boleh, bermimpi boleh. Selama itu gratis, kenapa tidak ?. Justru disitu manusia bisa bertahan hidup. Banyak sekali bukan manusia yang mengalami putus asa dan kecewa karena terlalu termantra oleh kata gagal. Dan akhirnya malah mengubur mimpi mereka. Padahal lebih sakit membunuh mimpi kita sendiri daripada melihat –kemungkinan- bahwa mimpi kita pasti terwujud –meskipun entah kapan-. Kalau pun tidak? Aku sudah bilang, ada “mimpi” Tuhan yang lain yang akan menjadi jalan yang terbaik untuk kita suatu saat nanti atau bahkan di tahun baru ini, kita hanya (masih dan perlu) yakin. Semoga.... Aamiin. :)
Memang semua mimpiku belum berjatuhan di tahun kemarin, tapi aku sudah bilang: “aku bahkan kalian hanya (perlu dan masih) yakin bahwa Tuhan pasti akan menurunkan mimpi aku dan kalian, meskipun itu entah kapan”. Jika mimpi menjadi seorang penulis yang aku idamkan dari dulu belum aku genggam, namun, apa pun nanti jadinya aku, sekalipun bukan menjadi seorang penulis. Aku berharap aku tetap bisa menmbanggakan ibuku di jalan yang lain. Amien. Dan jika Tuhan telah menuliskan naskah skenario hidupku menjadi yang bukan seorang penulis, aku (perlu dan masih) yakin bahwa Tuhan pasti mempunyai cerita lain dalam naskahnya, bahwa jalan –yang bukan menjadi seorang penulislah- ini yang terbaik untukku. Aku selalu ingat perkataan orang yang menjadi provokator utama dalam hidupku, ibu, bahwa apa yang aku anggap baik untuk jalan hidupku, belum tentu baik menurut Tuhan, dan apa yang aku anggap buruk untuk jalan hidupku, bisa saja itu adalah hal yang terbaik untuk aku dari Tuhan. Aku berharap, sampai kapan pun, mereka –keluarga, sahabat dan teman- yang menjadi provokator yang selalu mempekikan semangat untukku, akan melakukan hal yang sama denganku, yaitu menjaga mimpi-mimpi mereka selama kita-sebagai manusia- masih di beri kesempatan untuk berada di dunia.
Dengan selalu bersyukur pun, kita pasti akan selalu merasa bahwa kita tidak pernah kekurangan segala apapun, meskipun banyak mimpi kita yang belum kita genggam. Nikmatilah hidup, dan berpikir bahwa seolah-olah hidup itu memang menyenangkan, meskipun pada kenyataannya tidak selalu demikian. Banyak bukan para pemimpi yang akhirnya dapat menggengam apa yang mereka mimpikan karena menikmati hidup? Seperti tokoh ikal di Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, dan seperti tokoh 5 sahabat di 5cm-nya Doni Dirgantoro. Aku pun ingin seperti mereka berdua. Di balik semua mimpinya, dan kerasnya hidup, aku harus selalu bersyukur dan bukan hanya selalu memikirkan tentang “aku” tapi juga harus peduli sesama. Mungkin hal yang paling kecil yang aku lakukan sebagai tanda aku peduli pada sesama adalah aku juga harus menjadi provokator yang selalu mempekikan semangat.
Nah ini dia, kita boleh mengenal kata gagal dalam hidup, tapi kita jangan pernah merasa gagal dalam hidup, jika kita terus mencoba sampai kita bisa. Berharap boleh, bermimpi boleh. Selama itu gratis, kenapa tidak ?. Justru disitu manusia bisa bertahan hidup. Banyak sekali bukan manusia yang mengalami putus asa dan kecewa karena terlalu termantra oleh kata gagal. Dan akhirnya malah mengubur mimpi mereka. Padahal lebih sakit membunuh mimpi kita sendiri daripada melihat –kemungkinan- bahwa mimpi kita pasti terwujud –meskipun entah kapan-. Kalau pun tidak? Aku sudah bilang, ada “mimpi” Tuhan yang lain yang akan menjadi jalan yang terbaik untuk kita suatu saat nanti atau bahkan di tahun baru ini, kita hanya (masih dan perlu) yakin. Semoga.... Aamiin. :)
Bukune: http://bukune.com
GagasMedia: http://gagasmedia.net
Gammara Leather: http://gammaraleather.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar