Music

Selasa, 19 Juli 2011

Tapi

tapi kamu tidak suka ketika harus memilih.
tapi aku tidak suka, kenapa harus selalu melibatkan perasaan seseorang?
tapi aku tidak suka, ketika aku kalah menyimpan semuanya, yang bisa aku lakukan hanyalah menangis.
tapi aku tidak suka ketika hal yang aku suka ditentang orang yang aku sayangi.
tapi aku tidak suka, kenapa harus aku yang mengalami begitu banyak hal yang tidak aku suka?
tapi aku tidak suka, aku menjadi seseorang yang terlihat egois.
tahukah semuanya?
semuanya berasal dari rasa kehilangan yang amat mendalam.
setahu ku apapun yang terangkai indah adalah sebuah cerita kesedihan.
tak pernah aku merasa kebahagiaan dapat merangkai kata menjadi sebuah kalimat yang  indah.


bolehkah aku mengeluh?
aku hanya ingin mengakui sedikit saja tentang aku sebagai manusia.
aku makhluk lemah dihadapanNya.
ketegaranku, ketaqwaanku, kesabaranku, kepercayaanku terhadap apapun yang Dia janjikan, aku serahkan semuanya.

"detik ini, menit ini, jam ini, hari ini, hingga matahari rehat dari tugasnya, aku tak bisa menggambarkan perasaan yang aku rasa.
aku tak bisa mengukur apa yang aku rasa.
aku tak bisa menerka apa yang aku rasa.
entahlah semuanya terasa campur aduk.
aku hanya bisa meminta maaf, sebagai aku makhluk Tuhan yang paling perasa"

dan ini tentang pilihan, aku atau dia?
jika aku berangkat pada beraduan yang entah dimana letaknya, aku atau dia yang pergi?
semuanya tak dapat dibandingkan, aku dan dia berbeda.
aku yang kau sayangi atau dia yang kau cintai?
cukup, semuanya akan tahu jika waktu harus mengulurkan jawabannya.
maka lebih baik semuanya pilih dia dan aku pergi.
di kejauhan tak kan ada lagi rasa "tapi aku tidak suka".
dan tenanglah semuanya baik-baik saja selama aku masih percaya padaNya

Senin, 18 Juli 2011

Jauh

terlalu jauh ku ceritakan awal mulanya
mungkin langit dan bumi yang memberi jaraknya
seperti air sebagai sumber kehidupan
aku merasakan hembusan nafasmu sebagai kebahagiaan
terlalu dini jika ku bukakan, sebagaimana kejujuran terkadang menyakitkan
bukan keadaan yang harus disalahkan
bukan aku atau pun kamu
bukan kita atau pun mereka
tapi ini hanyalah sebuah skenario kehidupan

tahukah kerinduan pun adalah jarak
yang seharusnya kupagari tinggi
namun rindu selalu saja mengetuk rasaku terhadapmu
inilah menjadi ambivalensi yang aku pertanyakan
teringat masuk ke dunia yang tak aku kenal
ternyata hiduplah dalam kebahagiaan -semu
berapa kali kita terjatuh bersama
bangun dari mimpi kehidupan
saat ku tahu semua hanyalah kesalahan
berputar kembali pada satu poros
keseimbangan kita akhirnya tergoyahkan jua
bukanlah aku yang menjauh
tapi kamu yang teralu jauh masuk kekehidupan
yang jerat dan perangkap yang kita pasang malah jadi bumerang

Minggu, 10 Juli 2011

Apa susahnya ?

kenapa ada hal yang mempersulit segala sesuatu hal yang mudah ?

Pohon

jangan sepelekan aku.
bagimu aku hanya anak ingusan yang belum tahu apa-apa tentang hidup.
kau egois dengan umurmu yang mengecap tak pernah salah dalam melangkah.
bukankah kau manusia ?
pastilah tanpa aku ketahui pun kau punya seonggok dosa. aku berani melakukan hal apa pun yang aku mau. sombong. memang itu, aku terhadapmu. jangan pernah kau pikir, aku tak berdaya merengek meminta memohon bahkan tergeletak kepalaku dengan kaki sejajar terhadapmu demi secuil kebahagiaan.
bukan aku yang menumbuhkan pohon dendam ini. tapi kau. yang melempar benihmya di ladang hati, kau rawat, kau jaga, hingga tumbuh menyakitimu sendiri. perih, cadas, luka yang kau dapat dari ladang yang kau jaga.
rasakan. dan kau berteriak.
tak ada hati untuk menolehmu bahkan tersenyum padamu. sudahlah aku memang durhaka pada apa pun. itu ucapmu.
astaghfiruloh Tuhan, dendam ini menyakitkan aku jua. aku di racun olehnya dan untuknya.
aku ingatkan diri. siapa aku?
jarum yang ditumpuki jerami penuh dalam ruangan yang luas, yang berpeluang kecil menemukannya itu adalah aku.
sementara itu, setiap gambar kabah yang aku lihat dalam solatku, menebang pohon dendam dengan sendirinya.
lepas dari itu, ku lihat kau, seakan terjadi keajaiban. pohon dendam tumbuh lagi dengan tinggi, kuat dan kokohnya sampai tak terlihat bekas tebangannya.

Salah satunya

kau di paksa untuk memilih. keduanya hidup dan berarti bagimu.
paksaan ini, membuatmu makin tertekan.
ketertekananmu semakin membuatmu gundah.
kali ini gundahnya ingin menyelimuti mu dalam tidur.
ternyata dia tak mau melepaskanmu bangun dengan relaxnya.
aku senang, selimut gundahmu setidaknya menahanmu untuk beberapa waktu.
dan kau, aku. tahu. waktu padahal kan terus berjalan.
selimutmu menyitanya.
senyum setan terpancar dari bibir.
hatiku meronta melawan.
rupanya nurani tak menghendaki.
ini pertarungan setan dan malaikat.
tapi, aku ingin kau cepat memilih saat kau di selimuti gundahmu dari ketertekananmu.
jawabanmu adalah kuncinya.
aku atau mereka ?
dan itu cukup.
membebaskanmu dengan kehilangan salah satunya.

Selasa, 05 Juli 2011

Adaptasi

beradaptasi adalah proses.
semua hal pasti ada prosesnya tepatnya memilki proses. proses inilah yang tak bisa kita hitung dengan jari.
semuanya tidak ada yang tahu, proses itu akan berhenti kapan dan finish di tujuannya.
di dunia ini bagi ku tak ada yang instant -sekali pun memasak mie instant tetap saja membutuhkan proses.
kali ini, aku harus bergelut dengan perasaan ku sendiri.
aku bosan, aku cape mengatakan hal yang sama di tempat yang berbeda.
akhirnya pun yang menang adalah keadaan, dan aku disini kalah dengan diriku sendiri.
air mata langit, aku suka. aku jadikan kedok senyumanku untukku beradaptasi.
sebagian orang membencinya, tapi aku ?
aku menyukainya. aku tahu, seutuhnya air mata langit itu sedikit merepotkan orang yang akan beraktifitas.
setidaknya, mereka tidak sadar, setiap tangisan langit adalah harapan.
ya harapan baru layaknya palngi yang muncul dengan mejikuhibiniunya.

beradaptasi adalah pemaksaan, pemakssan keadaan yang telah di takdirkan.
aku kehilangan. sesuatu. yang biasa ada di hari hariku.
kenapa aku harus terbiasa dengannya di hariku ?
jika saja tak terbiasa, aku tak akan merasakan kehilangan.
kehilangan inilah yang menggerakan hatiku secara paksa untuk beradaptasi.
ayolah, aku yakin aku bisa.
bisa beradaptasi dengan dunia di luar sana, yang mana aku tahu mungkin kejamnya melebihi air mata langit yang turun bersama suara bentakkan petir.
hari terakhir ini, aku akan pergi.
pergi dan beradaptasi tanpanya.

Pelajaran Baru

kemarin, atau hari-hari sebelumnya -yang aku lupa itu kapan, ada pelajaran baru yang hidup berikan untuk ku.
di luar sana, ada dunia kecil yang sebagian orang mungkin tak memerhatikannya.
ketika aku berada di  toko buku, aku tertarik pada sebuah buku.
banyak hal yang aku dapat dari buku itu. 
buku itu memberi tahu ku tentang kehidupan lain yang ada di sekelilingku.
kehidupan yang mungkin sebagian orang atau bahkan banyak orang yang melecehkan atau lebih dari melecehkan.
kita tahu, Tuhan menciptakan kita berpasang pasangan.
seperti malam dan siang, baik dan buruk, serta laki-laki dan perempuan.
tapi  menurutku seutuhnya dunia itu tidak ada -siapa orang pertama yang menemukannya atau membangunnya, dunia itu bangun dan berdiri sendiri.
bukan salah mereka, kenapa mereka hidup di dunia itu ?
kenapa mereka terjebak di dunia itu ?
dan kenapa mereka cenderung menetap di dunia itu ?
aku hanya bersikap netral dalam hidup ini, dalam dunia mereka dan begitu pun dalam dunia ku.
aku tak menyalahkan mereka yang hidup disana, dan aku tak membenarkan untuk mereka yang hidup disana.
hanya saja, tentang mereka dan dunianya aku jadikan ilmu untuk ku.
aku hargai mereka, bahwa mereka ada dan akan selalu ada.
aku baca, berbagai cerpen tentang mereka dan tentu tentang dunianya.
aku rasa semua tidak bisa di benarkan atau pun disalahkan.
karena yang pantas menghakimi seutuhnya hanya Tuhan, aku sebagai manusia hanya pantas menilainya saja -tidak lebih.

Sabtu, 02 Juli 2011

Stuck in the Moment


Keluh Gerimis

pucuk-pucuk tembakau menengadah kuncup meradang kelabu. menangkap bias-bias asa pada kelopaknya berjatuhan. dan kau masih mengabut dalam bayang-bayang luka nganga. mencadas, menerjal, membelukar, dan kian meranggas menghunjam matahari.

pada sebuah senja yang gelisah, lelah kian larut dalam relung gerimis mengeluh, menunggumu di istana paling gaib itu, sedang lembayung senja enggan membenamkan ronanya, menyaksikan kelepak sayapmu mengehempas naluri ilalang yang berjingkrak-jingkrak menggapai cakrawala.

tak ada yang lebih mewahyu daripada keluh gerimis yang menjelmakan senja menjadi lautan air mata.

Hujan Dan Kenangan

Aku ingin kau mengingat hujan ini lagi, rama
hujan yang telah membawa kita pada kesepian yang nyata
tentang doa-doa yang terangkai panjang dalam lingkaran minda
juga harapan –harapan yang seluas semesta
aku ingin kau mengingatnya, rama
seperti aku telah mematrinya pada kehidupanku setelah pertemuan antara kau dan aku
bukankah hujan ini jua yang telah menunda langkah-langkah kita pulang ke rumah?
hingga pada satu tempat yang tak pernah kita fikirkan sebelumnya, kita bertemu
hujan ini jua yang mengantarkan kita untuk saling memahami bahasa mata
ketika itu
aku ingin kau mengingatnya, rama
sebagai kenangan yang bisa kau dongengkan untuk anak dan cucumu kelak
menjelang tidur
atau hujan begini mengguyur halaman rumahmu
sedang kau dan orang-orang yang kau sayangi duduk mengelilingimu
saling canda dan berbagi cerita