Perlahan kau terobos matahari, menyusuri setapak itu. Tak kau hiraukan peluru-peluru menembus jantung dan hatiku, meninggalkan luka dan bekas yang menganga. Bapakmu mungkin membawa bekas pelurunya sebagai kenangan, tapi aku mati begitu saja tanpa pujaan. Kau pun ingin segera raib dalam pandangan.
* Wa Ode Wulan Ratna
Tidak ada komentar:
Posting Komentar