Music

Rabu, 06 Februari 2013

Siapa yang Salah ? ( II )


     Irna, bagaimana kabarmu? Aku harap baik-baik saja sama seperti aku. Tahukah Irna, aku merindukanmu. Ingat tidak Martin yang pernah aku ceritakan dulu di e-mail pertamaku?. Aku harap kamu mengingatnya. Kali ini ceritaku ada sangkut pautnya dengan Martin. Oh ya, aku berterimakasih banyak padamu. Meskipun kamu dan aku sekarang beda benua. Tapi kamu masih mau membalas e-mail - e-mailku. Aku pikir, kamu tidak akan membalas e-mailku. Karena aku tahu, kamu bukanlah tipe orang yang suka sekali masuk dunia maya, internet. Mungkin karena kesibukanmu. Sekalinya kamu bermain dengan internet, pasti hanya mencari bahan untuk tugas.
Irna, kemarin aku menulis di buku harian. Baru hari kemarin! Ku dengar Martin menemukan buku harianku dan mengetiknya di blog. Dia beri judul Curahan Hati Seseorang. Dan aku sudah melihatnya sebelum aku menulis ini untukkmu. Aku ingin marah rasanya. Adakah sejarah yang menyatakan bahwa buku harian seseorang boleh di baca tanpa ijin dari pemiliknya?. Tidak ada, kan?. Kali ini sikap Martin tidak dapat aku toleransi. Lantas apa maksud dari ceritaku semua ini, begitu bukan? Aku hanya ingin mencari seseorang yang masih mau mendengarkan keluh kesahku disini. Di tempat rantauan. Dan aku mempercayainya padamu. Hanya padamu, teman kecilku. Aku harap kamu jangan menghancurkannya.
     Begini, di semester ketiga aku masuk kuliah, aku bertemu dengan seorang pria yang dapat meluluhkan hatiku. Kamu tahu bukan selama kita berteman sejak kecil hingga satu SMA, aku tidak mudah jatuh hati?. Tapi entah bagaimana, cinta seenaknya saja dengan mudah menguasai hatiku. Dia adalah cinta pertama dan sekaligus pacar pertamaku. Terlalu tua mungkin, aku baru rasakan cinta pertama di jenjang kuliah. Tapi ya beginilah aku. Sebenarnya, aku tidak pernah menahan hatiku terkena cinta untuk datang sebelum masa kuliah. Tapi takdir mungkin yang mengharuskan aku merasakan cinta sekarang. Jujur, hingga saat ini hubunganku baik-baik saja dengannya. Namun, aku ingin berpisah dengannya. Pasti kamu bertanya kenapa. Alasanku ingin berpisah dengannya bukan karena bosan. Bukan itu. Sungguh bukan karena aku bosan bersamanya. Bukan juga karena orang tuaku dan orang tuanya yang tidak setuju dengan hubungan kami. Ada hal lain, yang hanya kamu dan Tuhan yang mengtehauinya. Janji?. Tapi sepertinya sia-sia saja. Kini Martin dan pengunjung blognya lebih tahu dibanding kamu. Aku sungguh kesal. Maafkan aku Irna, seharusnya, aku bercerita padamu sebelum Martin menulisnya di blog. Aku hanya takut. Takut mengganggu kuliahmu disana. Tapi aku sudah tidak kuat Irna.
     Namanya Fajar. Perangainya yang ramah, membuat orang mudah mengenalinya. Kadang aku pun cemburu, banyak teman wanita yang tak segan meminta bantuan tugas kuliah kepadanya. Wajar kan?. Meskipun begitu, aku tidak mempercayainya seratus persen. Seperti aku mempercayaimu. Maka maafkan aku, jika kamu seperti terbebani oleh rasa kepercayaanku. Fajar memang memiliki wajah yang tidak kalah manisnya dengan laki-laki yang pernah kamu sukai dulu di SMA. Tak terlintas bahwa dia akan menyakitiku. Kesakitanku malah aku terima dari yang lain. Dia tidak selingkuh. Sungguh dia lelaki yang baik, yang mau menerima aku apa adanya. Dan bahkan setelah wisuda nanti, dia ingin segera melamarku. Bagaimana aku tidak bahagia mendengar kesungguhan hatinya yang mau menuju kejenjang yang lebih serius lagi denganku?. Mungkin, aku harus berpikir kembali tentang lamaran itu.

     Alasanku ingin berpisah dengannya karena satu orang. Tantenya. Dari pertama kali aku mendengar tantenya berteriak di kejauhan, aku bisa merasakan nada bicaranya yang tidak suka dengan kehadiranku di rumahnya. Awalnya aku pikir itu hanya perasaanku saja. Makin lama, aku makin merasakan apa yang aku pikir “awalnya” ternyata memang benar. Tantenya tidak menyukaiku. Aku belum pernah bertemu dengan tantenya secara langsung. Aku hanya mendengar tantenya berteriak memanggil nama Fajar untuk segera ke lantai dua. Mereka cukup lama berbicara berdua disana. Dan aku sendiri di tinggal di ruang tamu, karena pada saat itu kedua orang tuanya sedang tidak ada dirumah. Hanya ada adiknya yang bersantai di ruang keluarga menonton tv. Aku tidak pernah bertanya apa yang sebenarnya terjadi antara Fajar dan tantenya. Karena aku penakut.
Siang itu, terik panas matahari tak menggoda aku untuk minum segelas air dingin. Yang ada di pikiranku hanya rumah. Dan saat memejamkan mata, aku harap aku ada di rumah. Tak perlu menempuh jalan untuk ke rumah. Situasi saat itu, tak memungkinkan aku untuk tersenyum. Jadi kusuruh Fajar pergi, sebelum ada petir yang membludak keluar dari mulutku. Maka hari itu pula aku batalkan acara kami.

     Fajar memang berasal dari keluarga yang berada. Tantenya adalah pemilik butik Antique yang berada tak jauh dari kampus kami. Mungkin sekitar 2 km. Suatu hari, adikku pergi kesana mengantar temannya untuk membeli baju. Apa yang didapatkannya?. Tebak Irna!. Bukan hanya baju yang di bawa pulang oleh temannya. Adikku pun membawa sesuatu yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku ketika dia bercerita padaku. Hinaan. Adikku menerima hal itu dari pemilik butik itu, di depan temannya. Aku tidak membencinya. Hanya saja, jika tantenya tidak bisa menerima kehadiranku, kenapa ia juga harus melimpahkan rasa ketidakbisaan menerima kehadiranku pada adikku?. Tidak adil bukan?. Kasihan adikku jadi korban.
     Aku tidak bisa menceritakan apa yang dilakukan oleh tantenya pada adikku. Cukup itu yang boleh kamu ketahui. Selebihnya tidak. Bukan maksud membuatmu penasaran, tapi kamu mengerti kan apa yang aku rasakan?. Semuanya menjadi semakin rumit di tambah dengan ulah Martin. Ah, minum obat pereda pusing pun tidak ada gunanya. Yang pusing ini bukan cuma pikiranku. Tapi hatiku pun ikut pusing di buatnya. Dulu aku berharap masa SD cepat berganti dengan SMP, masa SMP beganti dengan masa SMA, dan masa SMA berganti dengan masa kuliah. Itu dulu. Andai waktu bisa aku ulang, aku harap di mana pun aku berada, aku mampu mengatasi segalanya. Tapi lihat? Masalah seperti ini saja, aku ternyata tidak kuat. Semakin aku bicara pada diri sendiri mengatakan aku kuat, aku semakin sadar bahwa aku adalah manusia yang lemah, yang berusaha untuk kuat.
Martin sepertinya memendam rasa yang hingga kini belum bisa dia hapus dan menerima bahwa aku tidak bisa memilihnya dibanding memilih Fajar. Sebelum menulis post yang berisi buku harianku, dia menulis sebuah post juga. Dan Aku membacanya.

Teruntuk yang menyakiti.
Aku yakin, bukan aku yang terpilih, karena Tuhan sengaja menyuruh aku untuk berjuang merebutmu dari tangan yang kini menjadi kekasihmu.
Tak peduli apapun yang orang katakan. Aku tetap mencintaimu.
Janur kuning belum melengkung. Aku masih bisa berusaha merebutmu.
Kamu memang bukan satu-satunya wanita yang membuat aku harus menitipkuan hatiku. Tapi aku tahu, dikejauhan sana -di hatimu-, sebelum kamu mengenalnya dan kita masih berteman, kamu adalah wanita yang paling baik yang pernah aku kenal. Sederhana memang. Tak sesederhana apa yang aku tulis sekarang.
Aku laki-laki yang mencintaimu, yang rela membuat apapun terlihat berlebihan, agar kamu mau datang padaku dan berkata “tolong hentikan semuanya”. Dan aku bisa mengenalmu kembali seperti semula, hingga membuatmu melupakan dia untiukku. Aku mohon. Katakan itu dan kejar aku.

Martin sengaja sekali ingin membuat aku  menghentikan ulahnya dan kembali berteman dengannya. Aku tidak pernah memusihinya dan memasang batas perang antara aku dengannya. Entah apa yang sudah dia lakukan. Cinta benar-benar membuat semua orang menjadi gila. Termasuk Martin. Orang yang aku kenal sejak ospek kuliah. Apa yang harus aku lakukan? Kisahku bersama Fajar tersebar kemana-mana dan Martin ikut tertawa. Aku harus menghentikan Martin. Tapi semua itu sama saja, aku menyerahkan hatiku secara terpaksa untuknya. Membuat dia bangga bahwa misi yang dia kerjakan, akhirnya berhasil. Semuanya begitu memalukan.
Cukup sekian e-mail ku. Terimkasih jika kamu mau membalasnya lagi, sahabat kecilku.

Kamis, 24 Januari 2013

Cerpen

    Siapa yang Salah?

      Aku seperti terjatuh di ketinggian yang tidak pernah aku ketahui bahwa ketika tersandung kedepan, disana adalah jurang. Perasaanku bermain genderang dengan kerasnya, bunyinya dag dig dug berpacu dengan jantung seperti masuk wahana adrenalin. Sebenarnya aku tidak mau membahasnya, bahkan menuliskannya dengan rangkaian kata yang aku tulis ini. Hanya saja, ada yang lain yang tidak bisa aku bungkam. Tentang perasaan. Waktu kita untuk saling menyelami pribadi masing-masing tidaklah sebentar. Bayangkan siapa yang rela jika akhirnya arti dari tiga tahun ini harus berpisah? Tidak akan ada yang rela, mungkin. Atau kamu yang rela? . Melepaskan memang cara terbaik untuk menemukan seseorang yang lebih baik dari yang pernah kita punya. Tapi bukan seperti itu. Aku meninggalkanmu seperti aku harus keluar dari zona nyamanku. Semua murni datang dari hati tanpa paksaan. Suatu saat, jika benar kamu memang bukan untukku saat ini, aku harap nanti kamu adalah jodohku. Dan jika kamu suatu saat nanti bukan jodohku, aku harap kamu –harus- menemukan seseorang yang lebih -segalanya- dari aku. Mungkin, pada akhirnya, tujuan kita sebelum menemukan orang yang terbaik untuk kita adalah,... kita dipertemukan  dulu  dengan orang yang kurang tepat untuk kita. Bagiku, jika kamu adalah orang yang kurang tepat, tapi kamu adalah orang yang kurang tepat yang pernah membahagiakan aku. Aku memang tidak sempurna, kamu pun begitu.  
      Aku adalah embun yang sudah tidak kuat bergelayut manja bertahan pada ujung daun. Setelah begini, akulah yang harus memutuskan, kemana aku harus melangkah. Waktu yang digunakan untuk mengambil suatu keputusan -itu sangat singkat- tidaklah seimbang dengan dampak - jangka panjang- yang akan kuterima nanti. Aku harus bagaimana? Rasanya pertanyaan itu berasal dari bayangan cerminku, untuk aku. 
Setiap hari, aku memikirkan cara yang tepat agar kita dapat berpisah dengan cara yang baik sama saat kita pertama kali sepakat membangun hubungan kita dengan cara yang baik. Aku tahu, dari status teman menjadi ‘status yang lebih dari teman’ itu mudah, tetapi jika dari ‘’status yang lebih dari teman' untuk menjadi status teman -lagi- itu sulit dan tentunya membutuhkan waktu. Obat penawar segala kesakitan adalah waktu. Tapi waktu tidak bisa menjamin bahwa kita benar-benar akan sembuh. Semuanya begitu penuh ketidakpastian. Apalagi akhir-akhir ini pikiranku selalu berawan dan menggumpal membentuk wajahmu. Aku benar-benar tidak mau mengakhiri semuanya dengan kata "berpisah". Namun, ada sosok lain yang menjadi benteng dan membuat aku harus berpikir untuk kesekian kalinya –lagi- tentang hubungan kita. Karena bagaimana pun, pastinya kamu akan lebih memilih dia dibandingkan memilih aku. Semua sikapku yang berbeda ini adalah celah untukmu agar kamu dapat berkata, "sebaiknya kita sampai disini saja". Tapi apa yang aku dengar dari mulutmu? Kamu hanya selalu bertanya, "kamu kenapa?".  Apa mungkin aku harus menjawab, “sebenarnya aku ingin berpisah denganmu tanpa menyakitimu”, bagaimana bisa, kan?
Kata berpisah itu adalah pisau kecil yang tak kalah tajamnya dengan gergaji besar kesombongan. Sekalinya saja terkena kedua benda tajam itu, kita pasti berdarah.
      Aku tidak mau memulai perpisahan itu. Aku hanya ingin kamu yang memulainya. Tapi kamu tidak pernah mengerti akan celah yang telah aku beri. Seberapa besarkah rasa sabarmu? Padahal aku tahu, kamu bukan malaikat. Lantas, kenapa kamu mau menjadi malaikat untukku? 
Ayolah, terima pesanku. Terima bahwa aku ingin berpisah denganmu bukan karena kemauanku. Ada sosok yang lain, yang menjagamu dan bilang bahwa aku adalah hanya mawar berduri untuk jarimu. Masih banyak bunga lain, selain mawar yang lebih aman untuk jarimu, katanya. 
     Dan ini, terakhir kali aku bilang, jika kamu dipaksa harus memilih, kamu pasti akan memilih dia. Maka terimalah pesanku, lupakan aku dan jangan tanya siapa yang salah. Bukan aku, kamu, dia, keadaan, waktu dan Tuhan yang salah. Lantas siapa? aku pun tidak tahu.

Rabu, 23 Januari 2013

Tahun ke dua


   Hidup aku memang tidak sempurna, tapi kamulah yang menyempurnakan hidupku.

Rabu, 16 Januari 2013

Belajar

"Orang yang masih ingin hidup adalah orang yang masih mau belajar dimanapun,    kapanpun selama hidupnya" 
Ibu Ani (Via -Fonny)

Sebenarnya,  kalimat bu Ani yang satu ini ingin aku tulis. Berhubung udah di tulis Fonny, ya sudah aku copy saja. Maaf ya Fon hehehe.

Akhir-akhir ini, aku sering banget liat film. Padahal ini lagi UAS. Ga ada gunanya sih, malah bikin wasting time. Tapi, meskipun begitu, aku selalu ngambil sisi positif dari film tersebut.
Caranya? . Salah satu unsur intrinsik dari film bagian amanatnya, aku simpulkan sendiri.
Setiap aku nonton film. Aku belajar banyak hal. Film yang awalnya kurang rame pun sering aku tonton. Kan, mungkin saja itu "awal" nya. Kalau lama kelamaan kan bisa aja aku terbawa alur ceritanya dan menikmati ceritanya sehingga yang terlihat "awal"nya kurang rame, bisa jadi rame.

Nih, aku mau cerita film You're the Apple of My Eyes. Film ini dari Taipe, baru kali ini aku tertarik sama fil luar yang notabenya bukan dari Eropa. Ceritanya menarik dan akhirnya mungkin tidak tertebak, atau buat yang udah sering nonton film mah malah udah tertebak. Terserah lah ya. Intinya sih, itu film bercerita tentang satu anak laki-laki badung yang suka sama cewe pinter. Gimana cara ngejarnya? Otomatislah harus pinter juga, gitu kan? ceritanya emang klasik banget kan? bahasa inggrisnya mah : this movie it si common.
Hahaha gaya pake bahasa inggris. Maklum... tadi abis UAS inggris.
Eits... tunggu dulu ! . Ceritanya emang biasa aja, tapi kalo di film itu, sentuhan akting dan alurnya ga biasa. Tahu kan gimana yang ga biasa? (biasalah skenario sutradara yang suka bikin cerita indh-indah). Terus apanya dong yang aku pelajarin dari film itu? .
Hehehe ..Itu pendapat aku loh.
Yang aku pelajarin itu banyak sekali. Apa? (Males ah ngasih taunya hahaha)

Selain nonton film Taipe, aku juga nonton film Suckseed sama Top Secret a.k.a The Billionare film dari Thailand.
Film Suckseed di liris tahun 2011. Menurut aku filmnya kocak banget. Dan ceritanya? Biasa aja sih. Jadi tentang apa?.
Oke, ceritanya itu tentang persahabatan yang bermimpi ingin jadi band rock terkenal dan kompliknya cuma gara-gara cewe. Klasik lagi kan? Umum banget ceritanya. Tapi skenarionya itu loh yang luar biasa jadi bikin tambah luar biasa karena di tunjang sama akting aktris dan aktornya. Tapi di banding fim You're the Apple of My Eyes, aku lebih suka film Suckseed. Film ini ga beda jauhlah sama kehidupan sehari-hari.
Kalo the Billionare gimana? 
Cari aja ya di mbah Google hahah.

Beneran nih, aku lagi males nulis. Jadi udahan aja ya... mau baca dulu Anatomi Fisiologi Manusia buat UAS besok.

Jadi apa intinya posting ini? Yah intinya sih, kalo menurut aku, setiap hal itu pasti ga ada yang sia-sia, ga ada yang ga bermanfaat kalo kita mikirnya ke arah positif buat dijadikan pelajaran. Belajar itu kan ga harus terus baca buku, ga harus terus melakukan hal yang orang lain anggap itu ga berguna, di balik apa pun termasuk wasting time kaya gini yang bukannya harus "belajar" buat UAS malah nonton film pasti ada manfaatnya. HAHAHAH.

NB : Meskipun aku tahu sih, kalo lagi UAS bukan saatnya nonton film. Nonton film itu ada saatnya, tapi bukan pas lagi UAS. Jadi kerjakanlah sesuatu hal yang PRIORITASNYA PENTING dulu, baru ke yang KURANG PENTING itu juga merupakan proses BELAJAR yang bijaksana dalam hidup.

Jumat, 04 Januari 2013

Thank You 2012, Welcome 2013

Meta Rahmadhani


Hanya (perlu dan masih) Yakin

        Semua orang pasti pernah punya mimpi. Begitu pun aku. Mimpiku katanya terlalu “abu”. Kadang aku pun merasa “blue”. Tapi setiap kali aku menenundukan kepala, bukan hanya ada mereka –orang-orang yang selalu meragukan mimpiku- tapi ada mereka juga yang menegakkan kepalaku dan berkata: “kamu pasti bisa”. Karena aku yakin, setiap orang pasti pernah mengalami hal yang sama dalam setiap perjalanan mengejar mimpinya –baik mendapatkan celaan, kritikan maupun pengucilan-. Hingga saat ini, aku masih merawat mimpiku. Sesulit apa pun rintangan di tahun baru 2013, “aku selalu mengatakan pada diriku, kalau yang lain bisa mengejar dan mendapatkan mimpi mereka, kenapa aku tidak?”. Kadang, mimpi yang aku jaga ini, cahayanya redup, entah kenapa, mungkin karena rutinitas dan kurangnya motivasi. Aku sadar, motivasi yang paling besar bukanlah dari luar sana, tapi dari sini, dari dalam diri kita sendiri, dan mereka?. Aku jadikan mereka yang selalu menegagkan kepalaku sebagai provokator hidupku yang selalu mengeluarkan pekikan penyemangat untuk aku ketika motivasi diriku tak begitu menggebu. Aku sering membuat naskah motivasiku, mengejarnya tentu perlu cara, selain berusaha dan berdoa, cara yang terakhir adalah aku hanya (perlu dan masih) yakin pada Tuhan, bahwa suatu saat nanti mimpiku akan turun, dia tidak menggantung lagi di langit karena telah aku genggam. Seperti di tahun 2012, satu mimpiku telah aku genggam, aku masuk salah satu perguruan tinggi yang aku inginkan. Dan aku sangat bersyukur.       
       Memang semua mimpiku belum berjatuhan di tahun kemarin, tapi aku sudah bilang: “aku bahkan kalian hanya (perlu dan masih) yakin bahwa Tuhan pasti akan menurunkan mimpi aku dan kalian, meskipun itu entah kapan”. Jika mimpi menjadi seorang penulis  yang aku idamkan dari dulu belum aku genggam, namun,  apa pun nanti jadinya aku, sekalipun bukan menjadi seorang penulis. Aku berharap aku tetap bisa menmbanggakan ibuku di jalan yang lain. Amien. Dan jika Tuhan telah menuliskan naskah skenario hidupku menjadi yang bukan seorang penulis, aku (perlu dan masih) yakin bahwa Tuhan pasti mempunyai cerita lain dalam naskahnya, bahwa jalan –yang bukan menjadi seorang penulislah- ini yang terbaik untukku. Aku selalu ingat perkataan orang yang menjadi provokator utama dalam hidupku, ibu, bahwa apa yang aku anggap baik untuk jalan hidupku, belum tentu baik menurut Tuhan, dan apa yang aku anggap buruk untuk jalan hidupku, bisa saja itu adalah hal yang terbaik untuk aku dari Tuhan. Aku berharap, sampai kapan pun, mereka –keluarga, sahabat dan teman- yang menjadi provokator yang selalu mempekikan semangat untukku, akan melakukan hal yang sama denganku, yaitu menjaga mimpi-mimpi mereka selama kita-sebagai manusia- masih di beri kesempatan untuk berada di dunia.       
        Dengan selalu bersyukur pun, kita pasti akan selalu merasa bahwa kita tidak pernah kekurangan segala apapun, meskipun banyak mimpi kita yang belum kita genggam. Nikmatilah hidup, dan berpikir bahwa seolah-olah hidup itu memang menyenangkan, meskipun pada kenyataannya tidak selalu demikian. Banyak bukan para pemimpi yang akhirnya dapat menggengam apa yang mereka mimpikan karena menikmati hidup? Seperti tokoh ikal di Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, dan seperti tokoh 5 sahabat di 5cm-nya Doni Dirgantoro. Aku pun ingin seperti mereka berdua. Di balik semua mimpinya, dan kerasnya hidup, aku harus selalu bersyukur dan bukan hanya selalu memikirkan tentang “aku” tapi juga harus peduli sesama. Mungkin hal yang paling kecil yang aku lakukan sebagai tanda aku peduli pada sesama adalah aku juga harus menjadi provokator yang selalu mempekikan semangat.         
        Nah ini dia, kita boleh mengenal kata gagal dalam hidup, tapi kita jangan pernah merasa gagal dalam hidup, jika kita terus mencoba sampai kita bisa. Berharap boleh, bermimpi boleh. Selama itu gratis, kenapa tidak ?. Justru disitu manusia bisa bertahan hidup. Banyak sekali bukan manusia yang mengalami putus asa dan kecewa karena terlalu termantra oleh kata gagal. Dan akhirnya malah mengubur mimpi mereka. Padahal lebih sakit membunuh mimpi kita sendiri daripada melihat –kemungkinan- bahwa mimpi kita pasti terwujud –meskipun entah kapan-. Kalau pun tidak? Aku sudah bilang, ada “mimpi” Tuhan yang lain yang akan menjadi jalan yang terbaik untuk kita suatu saat nanti atau bahkan di tahun baru ini, kita hanya (masih dan perlu) yakin. Semoga.... Aamiin. :)

GagasMedia: http://gagasmedia.net
Gammara Leather: http://gammaraleather.com

Senin, 03 Desember 2012

Terngiang

Judul diatas bukan salah satu lirik lagu dangdut loh !, tapi hmmmmmmmmm......
Begini awalnya, salah seorang temanku, akan ikut ke Jakarta untuk mengeluarkan aspirasi mereka (karena temanku adalah anggota BEM) di gedung KPK. Dan kebetulan, dia disuruh untuk membuat sebuah tulisan (ya entah apa namanya, artikel, karya ilmiah, dan terserahlah) yang mengisnpirasi (jadi tulisan apa namanya?).
Saat kami bercakap-cakap tentang misi tersebut, dia dengan santainya menunda apa yang telah di tugaskan padanya.
"kamu banyak hal yang harus dikerjakan".
"nanti saja, aku belum mendapatkan inspirasi untuk menulis".
"oke, menulis itu perlu keheningan, aku pikir (untuk aku yang merasa sebagai penulis amatiran -sadar diri- haha)."
"iya, memang. saat ini, aku hanya ingin beristirahat sebentar dengan mengobrol santai"

aku mengerti, dia memang memiliki sikap bawaan yang (sangat) santai, katanya. (hahahha, eh !)

"oke, silahkan, pasti kamu akan mengalami kebingungan, kalimat apa yang akan kamu tulis, untuk mengawali paragraf peratamamu".
"ah, kadang, tapi tidak seperti kamu, memangnya harus galau dulu supaya bisa menulis".

beberapa menit hening ....

percaya atau tidak ?
Sampai saat ini, aku masih mendengar dan terekam jelas apa yang dia ucapkan tentang aku.
Bukan maksud aku membeci atas apa yang telah dia ucapkan. bukan !
Perkataannya membuat aku mengeluarkan jurus emas pada saat itu -diam-.
Aku tiak ingin berdebat dengannya, aku malas. Pada kenyataannya aku akan kalah.
Dan jujur, bukan aku takut dengan kekalahan, karena aku bukan pecundang (hahah ah masa?). Saat itu, aku benar-benar diam, bahkan hati aku yang suka mengoceh pun diam, dia tidak berkata.
Sekaranglah saatnya... Aku akan membela segala sesuatunya yang dia hakimi tentang aku.

Seseorang itu diciptakan dari asal (bahan) yang sama. Namun, mereka akan berbeda jika mereka tumbuh.
Dan begitulah seperti kita yang berbicara mengeluarkan tentang apa yang kita rasa dan kita pikirkan.
Yang lain memang hebat dalam penyampaian secara lisan, tetapi ada yang lain juga yang memang hebat menyampaikan secara tulisan.
Coba renungkan,  rata-rata yang menarik untuk ditulis bukankah tentang kesedihan? tentang kegalauan? apa pun itu, baik menyangkut hidup, percintaan, pertemanan, kehilangan, harapan dan masih banyak yang lainnya.
Kenapa ?
Pendapatku secara pribadi, karena perasaan seperti itulah yang mudah digambarkan, dan mudah diuraikan lewat tulisan dibandingkan lewat lisan (untuk sebagian orang).
Toh, banyak, kan? orang yang mencurahkan isi hati dan pengalaman hidupnya, yang  kini akhirnya menjadi penulis?
Seperti Iwan Setiyawan lewat  9S10A-nya dan Andrea Hirata lewat Laskar Pelangi-nya.
Hanya saja mereka (sang penulis tersebut) pandai memainkan kata dan merangkai kata, sehingga apa yang mereka tulis, tidak terlihat "hanya sekedar curhat".
Coba renungkan ...

Pelit katanya

Ada kalanya hal kecil itu hanya bisa kita nikmati sendiri, tertawa sendiri tanpa membagi.
Hey ! bukan pelit, coba saja setelah tertawa kita bagi, dan mungkin saja kan yang lain hanya diam, akibat apa yang kita bagikan malah tidak membuat mereka geli?.
Dan akhirnya berhenti. Nikmatilah sekiranya tertawa itu memang harus kita miliki sendiri.